Prihatin Rendahnya Harga Kelapa di Mendahara Ilir, Cek Endra : “Rantai Perdagangan Harus Diperpendek…”

Dengan gayanya yang merakyat, Cek Endra menjumpai petani kelapa di Mendahara Ilir, seusai bertemu tim dan menyapa warga Mendahara Ulu. Sekelompok petani kelapa dan buruh serabutan itu curhat pada Cek Endra terkait minimnya upah dan harga jual kelapa.

***

Sambil memegang buah kelapa bulat, Cek Endra mulai bertanya pada Udin, disaksikan Amirullah, Kaharudin dan Syamsu, sekelompok pekerja upahan pengupas kelapa.

“Ini kebon sendiri atau bagaimana?”

Cek Endra mulai bertanya laiknya seorang juru warta.

“Ini kebon orang pak. Kami cuma ambil upah dari menguliti sabut kelapa,” Udin mulai menjelaskan singkat, padat.

“Sistem upahnya bagaimana?” Cek Endra kembali menyelidik.

“Dibayar 120 rupiah per kelapa pak,” kata Udin, dikutip dari jambilink.com.

Bupati Sarolangun itu mendapat penjelasan detail dari Udin. Dalam sehari, mereka bisa menguliti kelapa sampai beribu-ribu. Bekerja dari pukul delapan pagi hingga jam 5 sore. Per orang, biasanya bisa membawa pulang ke rumah, duit berkisar Rp 100 Ribu hingga Rp 200 Ribu.

Cukuplah sekedar untuk menambal kebutuhan keluarga.

Satu hal yang dicatat Cek Endra, Udin dan kawan-kawan mengeluhkan ongkos jasa menguliti kelapa yang tak seberapa. Itu karena harga jual kelapa dari tangan petani memang rendah. Satu kelapa dijual antara Rp 500 hingga Rp 700.

Padahal, jika nilai jualnya tinggi, tentu saja ongkos jasanya naik pula. Curhat itu dicatat dan direkam baik-baik oleh Cek Endra. Jika ditakdirkan menjadi gubernur , ini satu diantara beribu persoalan yang mesti dicari jalan keluar.

“Rantai perdagangan harus diperpendek. Nilai jual harus bertambah. Supaya pendapatan petani dan buruhnya bisa naik. Kalau kita punya industri hilir, tentu kelapa-kelapa di sini tak perlu kita ekspor. Bisa kita olah sendiri sehingga nilai jualnya bertambah. Dengan begitu, pendapatan petani juga meningkat,”jelasnya.

“Akses transportasi juga mesti bagus,” imbuhnya.

Udin sempat mempraktekkan cara kerja mencabut kulit kelapa. Cek Endra sampai tertegun. Tangan Udin begitu sigap dan lihai. Untuk menguliti satu buah kelapa, cukup hanya dalam hitungan detik.

“Ini gaya Bugis pak…kalau gaya tradisional agak lama dan memakan waktu,”ujar Udin langsung tersenyum lebar.

Cek Endra juga mampir ke salah satu pengepul kelapa. Namanya Adam. Saat dihampiri Cek Endra, Adam tengah berdiri tegap di tengah kelapa yang berserak-serak. Ia seperti mencatat sesuatu di secarik kertas.

Dari cerita Adam, Cek Endra memeroleh informasi berharga, bahwa kelapa-kelapa itu rupanya dijual ke Thailand.

“Dijual dalam bentuk batok bulat gini pak. Sudah terbungkus begini. Satu bungkus isinya 40 kelapa,”kata Adam sembari menunjuk ke arah kelapa yang sudah terbungkus itu.

Cek Endra sempat bertanya ihwal kelapa pandan. Yang sempat ia nikmati sewaktu melawat ke Singapura. Kelapa itu wanginya bukan main, seperti daun pandan. Citarasanya, alamakkkk…membuat siapa saja ketagihan.

Adam tampak geleng-geleng. Ia mengaku belum pernah berjumpa apalagi menjual kelapa pandan itu.

“Coba dikembangkan jenis kelapa ini,”ujar Cek Endra.

Adam bergegas menyambut,

“Siap pak…kami juga baru tahu. Insyallah jika disupport pemerintah, akan kita kembangkan pak. Apalagi nilai jualnya tinggi,”kata Adam.

Menurut Cek Endra, satu kelapa pandan bisa dihargai hingga Rp 100 Ribu.

“Insyallah..kalau kita dipercaya rakyat nantinya, kita akan dorong petani-petani kita di sini untuk meningkatkan nilai tambah, salah satunya dengan menanam kelapa pandan,”ujar Cek Endra.

Jarum jam sudah menunjuk angka pukul dua siang. Cek Endra izin pamit. Ia mendoakan kelancaran usaha Adam. (*)