Keluarga Besar Kolonel Abundjani Menyokong CE-Ratu di Pilgub Jambi

Pada Pilgub Jambi 2020 ini. Lewat Arman, putra bungsu sang kolonel, keluarga besar Abundjani itu turun gunung di Pilgub Jambi. Mereka menyokong duet Cek Endra dan Ratu Munawaroh, pasangan yang diusung Golkar-PDIP itu. Apa yang mendorong anak keturunan kolonel Abundjani sampai turun gunung di Pilgub Jambi kali ini? Berikut penjelasan putra ke delapan sang kolonel itu.

***

Spanduk bergambar Cek Endra dan Ratu Munawaroh bertengger gagah di lantai tiga rumah megah itu. Dikutip dari laman media jambilink.com, ada tiga spanduk serupa, yang terpasang melingkari sekeliling rumah. Di ambang teras, sebuah baleho CE-Ratu ukuran 3×4 meter berdiri kokoh, seakan bersiap menyambut tetamu yang datang.

Rumah itu peninggalan seorang patriot bangsa, Kolonel Abundjani. Dibangun mulai tahun 1960 atau lima tahun menjelang pecah G30SPKI, rumah itu baru selesai dan ditunggui tiga tahun kemudian, 1963.

Selain unik, rumah ini bernilai seni maha tinggi. Di desain langsung oleh sang kolonel, pembangunan rumah melibatkan ratusan pekerja. Mereka diboyong dari tanah Jawa, berikut istri dan anak-anaknya.

“Diangkut pakai satu kapal besar,” ujar Lorena Anggraini, singkat, padat.

Ibu Lorena–begitu ia akrab disapa–, adalah istri Arman Abundjani, putra bungsu sang kolonel. Mereka adalah penunggu terakhir rumah peninggalan Abundjani itu.

“Bapak memang berjiwa seni tinggi,” kata Lorena.

Maklum, tiap sudut bangunan rumah itu memang sarat akan makna. Dinding-dinding rumah bagian dalam misalnya, dipenuhi lukisan-lukisan bertema perjuangan dan budaya daerah. Paling mencolok adalah lukisan yang menempel di tembok ruang tamu. Lukisan itu berkisah tentang perjuangan Rang Kayo Hitam, leluhur etnis Melayu Jambi.

Lukisan di tembok rumah itu jumlahnya 45 titik. Buah karya seorang seniman kesohor zaman itu, MS Hadi. Abundjani membangun rumah ini dengan 17 petak kamar. Di bagian belakang rumah ada waterboom–tempat luncuran menuju kolam renang–. Menariknya, kolam renang itu didesain menyerupai angka 8.

Kombinasi angka 17, 8 dan 45 itu merujuk pada tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

“Bapak seorang patriot. Sampai-sampai arsitektur rumahnya penuh simbol-simbol perjuangan,”kata Lorena.

Lorena bergegas memboyong kami menuju teras rumah. Ia menunjuk tiang penyangga rumah itu, yang bentuknya sedikit unik, berbeda dari tiang rumah lazimnya. Tiang itu berbentuk siku-siku. Sepintas, siku-siku itu terlihat seperti lambang Mercy, sebuah produk mobil mewah.

“Ini memang lambang Mercy. Bapak dulu adalah agen tunggal Mercedes Benz se Asia,” Lorena menjelaskan sambil tersenyum.

Jangan heran, kata Lorena, kala itu Andunjani menjadi satu-satunya tokoh Jambi yang bergelimang harta. Ia punya helikopter pribadi, sehingga bisa terbang kemana saja, sesuka hati. Di lantai tiga rumah itu ada helipad, tempat parkir helikopter.

Abdunjani juga punya bunker, tempat persembunyian bawah tanah.

Di rumah inilah Kolonel Abundjani bermukim dan membesarkan putra-putrinya. Di sini pula ia mendidik anak dan mengurusi negara. Saban hari, rumah sang kolonel disesaki sejumlah tamu, yang datang silih berganti. Mereka kerap membincangkan geopolitik nasional, hingga dini hari.

Dari rumah itu, kebijakan-kebijakan pemerintah kerap dilahirkan. Di rumah itu pula, siapa tokoh-tokoh yang akan memimpin Jambi, dibahas.

Semasa hidup, Abundjani memang menjadi rujukan. Ia acapkali dimintai pendapat, utamanya menyangkut kebijakan startegis, seperti pemilihan pucuk pimpinan daerah. Maklum, kala itu ia tergolong tentara berpengaruh. Punya pengikut kuat dan militan.

Ia satu-satunya putra daerah yang berpangkat kolonel.

Sejak berpulang tahun 1979, praktis, rumah perjuangan itu mendadak hening. Tembok-tembok rumah sarat makna itu tak lagi mendengar adanya diskusi-diskusi politik. Semuanya enyah, sampai sekarang.

Berkali-kali keluarga besar Abundjani itu diseret-seret ke politik. Tapi, pertahanan mereka sulit dijebol. Putra-putri Abundjani ogah terlibat.

Tapi, kondisi berbeda terjadi pada tahun 2020. Keluarga besar Abundjani terlibat aktif di Pilgub, menyokong pencalonan Cek Endra menjadi Gubernur. Mereka terpanggil dan sampai menghibahkan rumah sang kolonel sebagai markas perjuangan.

Arman, putra bungsu Abdunjani menjelaskan inci per inci, apa yang menjadi alasan mereka turun gunung di Pilgub Jambi.

“Cek Endra ini bukan orang asing. Dia termasuk cucu kolonel Abundjani,”kata Arman.

Arman lantas menjelaskan,

“Pak Abundjani itu kelahiran Batang Asai. Istrinya Siti Mariyah, orang Mandiangin Asli. Ibunya Cek Endra adalah keponakan Siti Mariyah, istri pak Abundjani. Jadi, pak CE itu manggil ibu kami nenek. Dia manggil bapak kami kakek,”jelas Arman, panjang lebar.

Cek Endra bertandang ke rumah Abundjani, Selasa 29 September 2020, kemarin. Ia ditemani pamannya, Lukman Laman, putranya Eko Syailendra dan Yuskandar, keluarga dekatnya. Pertemuan keluarga itu turut dihadiri Ihsan, tokoh Batang Asai sekaligus keluarga besar Abundjani.

Mereka berdiskusi sejak asar hingga menjelang Maghrib.

“Karena Cek Endra ini adalah keluarga, maka, sudah kewajiban kami anak keturunan Abundjani dan para pendukungnya untuk ikut mengantar Cek Endra ke kursi Gubernur. Dari rumah inilah banyak tokoh pemimpin dilahirkan, insyallah..dari rumah ini pula, cucu Abundjani, yaitu Cek Endra akan kami antarkan menjadi Gubernur. Rumah Abundjani ini, akan kami jadikan markas pemenangan,”kata Arman.

Cek Endra bahagianya bukan kepalang. Ia langsung menyampaikan salam takzim, memberi hormat kepada keluarga besar Abundjani. Ia sempat berkeliling rumah, menengok jejak-jejak perjuangan sang kakek, Abundjani.

“Semoga apa yang dicita-citakan keluarga besar kakek kami, Abundjani, diwujudkan dengan mudah dan diridhoi oleh Allah SWT. Saya bahagia, ini suntikan energi dari keluarga besar kakek kami, seorang pejuang, seorang patriot, Kolonel Abundjani,” ujarnya. (*)