Buya Satar Sokong Cek Endra di Pilgub Jambi, Wasiat Imam Masjidil Haram Mekkah Ustadz Abdul Shomad Gom

Buya Satar selalu mengiringi Cek Endra, sebagai bentuk takzimnya kepada Syeikh Gom, Imam Masjidil Haram, yang pernah menjadi gurunya semasa di Mekkah.
Buya Satar selalu mengiringi Cek Endra, sebagai bentuk takzimnya kepada Syeikh Gom, Imam Masjidil Haram, yang pernah menjadi gurunya semasa di Mekkah.

Hanya segelintir yang tahu alasan kyai kesohor asal Merangin itu menyokong Cek Endra di Pilgub Jambi. Meneruskan wasiat sang guru, imam masjidil haram Mekkah, al ustad al mukarrom Abdul Shomad Gom.

***

Dua periode ikut berjibaku mengantar Al Haris ke tahta Bupati Merangin, Kyai Abdul Satar Saleh sudah menganggap Haris bagai anak sendiri. Maklum, ke orang-orang, Al Haris kerap membanggakan sang kyai sebagai ayah angkat.

Tapi, di Pilgub Jambi kali ini, pengasuh pondok pesantren penghafal quran Khass Merangin itu memilih berseberangan dengan anak angkatnya itu. Ia menyokong Cek Endra, Bupati Sarolangun. Bukan sebatas mendukung, sang ustad bahkan ikut turun gunung mengaktivasi jejaring, utamanya alumnus dan mantan santrinya.

Dalam wawancara khusus bersama Jambi Link, media partner jambi9.com, Buya Satar -begitu kyai ini akrab disapa, mengungkap inci per inci alasannya mendukung Cek Endra.

“Sayo meneruskan wasiat dari guru, beliau pernah menjadi imam Masjidil Harom,”kata Buya Satar.

Guru yang dimaksud bernama Al Mukarrom Syeikh Abdul Shomad Gom. Dia asli Jambi, tepatnya berasal dari Mandiangin, Sarolangun. Dulu, semasa di Mekkah al Mukarromah, Buya Satar pernah berguru dengan Syeikh Gom–begitu Buya Satar kerap menyapanya–.

Syeikh Gom adalah ulama kesohor di sana. Meski sebagai pendatang di tanah suci, kealiman syeikh Gom mengantarnya menjadi Imam Masjidil Harom. Dia seorang hafiz 30 juz. Sebagai putra asal Jambi, Buya Satar bangganya bukan main. Ia satu-satunya menjadi murid yang disayangi Syeikh Gom.

Syeikh Gom yang diceritakan Buya Satar itu, rupanya kakek buyut Cek Endra, Bupati Sarolangun itu. Semasa berguru dengan Syeikh Gom, Buya Satar kerap diceritakan tentang anak keturunannya di Mandiangin. Menjelang kepulangannya ke tanah air, Syeikh gom sempat memanggil Buya Satar.

Mereka bertemu berdua di salah satu sudut masjidil haram. Sembari menanti waktu sholat asar tiba, Syeikh Gom sempat mewasiatkan sesuatu kepada Buya Satar.

“Tolong lihat dan perhatikan anak cucu saya di Mandiangin. Bantu mereka, jika suatu saat mereka membutuhkan bantuan…,”ujar Syeikh Gom, seperti ditirukan Buya Satar.

Wasiat itu ia genggam erat-erat. Sampai sekarang.

Sebagai bentuk takzim kepada seorang guru, Buya Satar mahfum wasiat guru adalah kewajiban baginya.

Tibalah masanya ketika Cek Endra turun gunung berlaga di Pilgub Jambi. Kabar itu sayup-sayup sampai ke telinga Buya Satar, setahun silam. Buya bergegas memacu kendaraannya bersama putranya, untuk bersua Cek Endra di Sarolangun.

Buya menanyakan ihwal niatan Cek Endra itu. Betul saja, Cek Endra mengiyakan dan langsung memohon bantuan dari sang buya. Tanpa panjang mukaddimah, sang buya langsung memeluk Cek Endra. Dengan suara lirih, Buya menegaskan akan membantu dan ikut mengantarnya ke kursi Gubernur.

Cek Endra tentu saja kaget. Kok ada ulama kesohor tiba-tiba saja bersiap mendukungnya. Tanpa diminta.

Ehhhh….Belakangan Cek Endra baru tahu, bahwa Buya Satar adalah murid kesayangan kakeknya, syeikh Gom, imam masjidil Haram itu.

Mendukung Cek Endra, Buya Satar hendak meneruskan wasiat sang guru sekaligus syeikh yang sangat ia kagumi. Menyokong Cek Endra sebagai bentuk takzimnya kepada sang guru. Dan Syeikh itu adalah darah daging Cek Endra, kandidat Gubernur Jambi. (*)